HEBOH SAJADAH DIJADIKAN ALAS MENARI

Posted By Aina Mulyana on Monday, January 4, 2016 | 7:17 PM

Banyak sekali alasan faktor kebetulan sepanjang 2015 dan awal 2016, misalnya Alquran yang dinyanyikan dengan langgam Jawa di Istana Presiden, adzan mengiringi lagu gereja dalam Acara Natal Nasional 2015 yang dihadiri Presiden Jokowi dan Menag Lukman, Alquran dibuat untuk bahan terompet tahun baru; dan sekarang sajadah shalat buat alas menari

Terkait ketidakpuasan atas alasan hanya karena faktor kebetulan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) meminta Kementerian Agama (Kemenag) untuk melakukan investigasi kasus penggunaan sajadah sebagai alas menari. Kemenag pun harus menjelaskan secara terbuka kepada publik alasan penggunaan sajadh tersebut.




"Kenapa harus karpet shalat yang jelas-jelas visualnya untuk ibadah, apakah ini benar faktor kebetulan?," ujar Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Maneger Nasution, Selasa (5/1).

Menurut dia, argumen faktor kebetulan seperti disampaikan pihak Kanwil Kemenag DKI Jakarta agaknya sulit diterima nalar sehat publik, apalagi pada acara sekaliber HUT di Kemenag DKI Jakarta. Komnas HAM pun meminta Menteri Agama menjelaskan secara terbuka ke publik. 

"Apalagi banyak sekali faktor kebetulan sepanjang 2015 dan awal 2016, misalnya Alquran yang dinyanyikan dengan langgam Jawa di Istana Presiden, adzan mengiringi lagu gereja dalam Acara Natal Nasional 2015 yang dihadiri Presiden Jokowi dan Menag Lukman, Alquran dibuat untuk bahan terompet tahun baru; dan sekarang sajadah shalat buat alas menari," tutur Nasution. 

Nasution  mengatakan Menteri Agama dan Kakanwil Kemenag DKI Jakarta tentu paham betul bahwa salah satu substansi HAM yang paling elementer itu adalah respek, menyelami dan menghormati perasaan serta simbol-simbol keyakinan dan identitas kultural publik. "Bangsa ini mulai defisit respek," kata dia.

Untuk itu, publik tentu mengapresiasi Menteri Agama dan Kakanwil Kemenag DKI Jakarta yang sudah minta maaf. Di samping itu publik juga tentu berharap Menteri Agama menginvestigasi kasus tersebut secara tuntas dan memberi punishment kepada yang bertanggung jawab. Yang terpenting menjamin tidak akan terulang kasus-kasus seperti itu di masa mendatang.


Aksi menari yang dilakukan di atas sajadah (alas salat) dalam rangkaian peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-70 di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DKI Jakarta menuai kritik. Tak mau polemik berkembang lebar, panitia penyelenggara dari Kanwil Kemenag DKI Jakarta segera menyampaikan permintaan maafnya.

Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Abdurrahman, menjelaskan tarian yang dilakukan di atas sajadah itu merupakan kelalaian panitia penyelenggara acara. Dia mengatakan tidak ada unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut.

"Untuk itu kami memohon maaf kepada semua pihak atas kelalaian ini," kata Abdurrahman, Senin, 4 Januari 2016.

Abdurrahman menjelaskan, kejadian itu bermula saat panitia lupa melipat karpet yang digunakan usai pementasan 175 siswa madrasah yang menari Tari Saman. Belum sempat digulung, karpet mirip sajadah itu kemudian digunakan sebagai 'alas' tarian Bali.


Abdurrahman mengatakan jika karpet yang digunakan itu bukanlah karpet yang biasa digunakan untuk salat. Karpet di Aula tersebut, menurutnya, merupakan karpet yang biasa digunakan untuk kegiatan sosial di Kanwil DKI Jakarta.

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/01/05/o0gbwm383-gunakan-sajadah-untuk-alas-menari-komnas-ham-pertanyakan-alasan-kemenag

http://www.goriau.com/nusantara/sajadah-dijadikan-alas-menari-bali-kakanwil-kemenag-akui-lalai-dan-minta-maaf.html

Blog, Updated at: 7:17 PM

0 comments:

Post a Comment

----------------------------------------------